Belum menjadi sebuah kalimat.. , bahkan sebagai sebuah kata yang berdiri sendiripun dia sudah bersayap .
Di Indonesia bila kita dengar kata tersebut langsung terbayang sebuah kamp atau perumahan (biasanya tentara) misalnya kompleks hankam , kejaksaan dan lainnya .
Bila ditempatkan pada ruang psychologis yang berbeda , maka kata tersebut juga bermakna ganda . Tetapi konotasi yang cenderung ‘negatif’ akan lebih dominan muncul , dan biasanya ditujukan pada seseorang yang ambisius atau yang ingin mencapai target spektakuler namun tampak terkesan tidak realistis.
Mengapa manusia cenderung tergiring untuk masuk wilayah dengan kompleksitas yang tinggi ? Misalnya dengan membangun ruang harapan dan mimpi didalam benaknya , bahwa kesempurnaan atau kepuasan itu adalah sesuatu yang mampu kita ciptakan , mampu kita dapatkan atau mampu kita kuasai , dan semuanya itu biasanya bersifat kebendaan atau hasil penemuan sebuah tehnologi .
Padahal kita semua sadar , bahwa ruang-ruang alam yang menyertai kehadiran kita sebagai makhluk hidup , sebagai skala prioritas tidak mungkin dihindari , apalagi dilupakan sebagai sebuah kebutuhan dan sebuah ketergantungan bagi kelangsungan hidup manusia .
Apalagi nyatanya , tehnologi terbukti lebih sering disalah-gunakan fungsi perannya hingga dampak yang kerap kali muncul , adalah kerusakan alam yang ditimbulkannya.
Kemana anda bepergian sekeluarga , disaat waktu senggang tersedia ?
Bagi anda yang ber-ekonomi tinggi tentu st.tropez di France atau Bahama’s Island , bisa juga ke gunung di Austria / Innsbruck misalnya atau minimal Hawwai adalah tempat-tempat dimana “kemewahan alam” masih terjaga yang paling sering dikunjungi manusia untuk mencari ketenangan sekaligus kedamaian .
Atau juga bagi yang ber-ekonomi pas-pas an alias “cekak” , dari yang paling jauh Bali sampai yang paling dekat Puncak atau ke Taman Ria Jaya Ancol (*hehehe..kasian ya.., naik mobil mpet’mpet-an..sumuk deh..*)
Semuanya ber-lomba-lomba ingin dekat dengan alam terbuka , udara yang bersih dan lainnya.
Pada intinya , manusia tidak bisa lepas dari segala keterikatannya pada alam itu sendiri nah.., kalau sudah tau ngga bisa lepas , koq ..sulit banget membangun kesadarannya , agar kita menjaga pohon-pohon supaya jangan ditebas sembarangan . Jangan bikin Mall yang mengunakan lahan penyerapan air misalnya . Atau jangan bikin rumah dempet-dempetan (maksa banget) yang penting deket keramaian , toko , pasar dan hingar-bingar bising lainnya.
Pokoknya manusia itu cenderung “kompleks” peri-kelakuannya , gimana ? pasrah..? dengan pembenaran bahwa ini juga kodrat manusia? ah..semprul..sampeyan.
~
Awali dengan topik “[...]” lalu

6 comments
Comments feed for this article
June 15, 2007 at 7:46 am
zoo
Bukan bermaksud mau OOT, tapi sekedar bermain dengan kata aja.
“…… dengan pembenaran bahwa ini juga kodrat manusia?”
Kata kodrat seringkali dijadikan senjata ampuh untuk menghindari ketidakmampuan.
Jika kita memang tidak mampu untuk merubah prilaku aneh, akhirnya berkata: “sudah kodrat” ataw “sudah dari sononya”
Bukan cuma bisanya menyalahkan orang lain, tapi lebih parah lagi, menyalahkan Pencipta ?
BTW beberapa hari lalu abis liat rekaman presentasinya Al Gore.
Apa postingan ini mengacu kesono juga toh mas Jockie ?
“Kemana anda bepergian sekeluarga , disaat waktu senggang tersedia ?”
waduuh, kalo punya waktu senggang lebih sering dipake tidur. Boro-boro jalan-jalan…
June 15, 2007 at 10:53 am
jsop
mbak thya,
Saya juga liat sekelebat di Ch43 (Al Gore) tapi sebetulnya dari sejak awal 2000 , mereka sudah menyadari akan gejala salah langkah politik luar negerinya (kalau ngga salah lho…he
Saya ingat waktu Lottie Spackelford (kulit hitam) , Gub.Washington DC :Roy Romer dan Jeane Sheareer (GUb.Nw Hampshire) dan Bill Bradley capres waktu itu , heboh bicara soal “back to nature” dan “back to family”.
Gara-gara si Mr.walker aja, mereka sekarang menyadari semakin banyak musuhnya , eh…pemanasan global menjadi-jadi ….. Yang tadi juga sih
June 15, 2007 at 2:49 pm
IMW
Kalo saya punya duit banyak, ndak milih ke Insbruck atau St. Tropez. Lha naik kereta murah aja bisa sampe sana jee.
Di Eropa kalau habis liburan orang masih berkulit pucat, artinya dia “miskin” tapi kalau kulitnya coklat, artinya dia “kaya”. Sebab bisa berlibur ke daerah agak jauhan.
Di Indonesia laku cream pemutih, di sini laku cream pen-coklat. Dasar manusia.
June 16, 2007 at 3:46 pm
jsop
Khusus untuk masalah di negeri kita , saya melihat ada satu hal yang sangat spesifik , paling tidak dari sudut pandang kacamata saya sendiri , semoga tidak subyektif .
Dalam kehidupan ini , semuanya adalah sebuah evolusi . Tak terkecuali hal-hal yang tercipta yang berujud menjadi sebuah benda tak bernyawa sekalipun .
Selalu ada proses awal , yang melatar belakangi terjadinya sesuatu yang kemudian berkaitan dengan persoalan yang ada hari ini .
Selalu saya katakan pada anak-anak saya , bahwa kalian ada karena saya sebagai ayah/ibumu dan masa lalu , artinya untuk menghadapi masa depan kalian harus menguasai dulu , yang namanya masa lalu.
Anak-anak saya atau generasi muda negeri ini , memang memikul persoalan yang rumit akibat perjalanan peradaban hidup itu sendiri , mereka merasa punya hak untuk melepaskan diri dari dosa dan kesalahan jaman yang mereka tidak terlibat didalamnya .
Sebuah argumentasi yang sangat manusiawi untuk saya pahami .
Tetapi jelas itu bukan sebuah ‘pembenaran’ juga untuk saya ‘amini’
Kembali pada maksud yang ingin saya sampaikan .
Kita sering khilaf atau lupa dalam menempatkan diri dan fungsi kita sebagai makhluk hidup yang juga hidup bersama makhluk lainnya .
Khilaf bahwa hal ter-penting bagi kelangsungan hidup dialam semesta ini , adalah harus dijaganya rasa “EMPATI”
Apakah empati itu? empati , empati adalah kemampuan kita untuk men-data dan memahami perasaan makhluk lain .
Dia bisa berujud sebagai manusia namun juga bisa binatang sampai ke tumbuh-tumbuhan.
Tetangga kita sedang sakit , sementara anda ingin mengadakan hajatan pesta misalnya . Empati yang berfungsi disana akan memindahkan lokasi pesta anda menjauh dari keprihatinan orang lain .
Negeri anda sakit , apa yang anda bisa berikan ? kalau empati saja tak mampu anda lakukan. Sedangkan negeri anda bukan “orang lain” , tetapi adalah tanggung jawab sekaligus hak anda untuk boleh hidup dan berpartisipasi dalam masyarakatnya.
Setelah melewati tahap tersebut , maka disinilah kita harus menempatkan posisi dan tanggung jawab kita sebagai manusia dan warga-negara .
Anda bayi? maka sudah lazim dan lumrah kalau anda selalu tergantung dengan perawatan seorang ibu . Negara menjamin (seharusnya) kelangsungan hak-hak anda tanpa dibebani kewajiban secuilpun .
Anda remaja (abg) sudah sewajarnya kalau anda egois dan grasa-grusu dengan aktivitas menggebu-gebu , karena dilandasi oleh semangat pencarian dan pembentukan identitas diri . Negarapun dalam hal ini tidak banyak menuntut kewajiban anda sebagai warga-negara , selain mendorong anda supaya menjadi individu yang berguna nantinya . (mendukung keberlangsungan negara)
Sikap anak muda yang ingin inpendent menjadi salah satu ciri-cirinya .
Anda dewasa , anda tidak berhak lagi untuk mempertahankan independensi anda , sebagai individu yang hanya mau tau segala urusan yang menyangkut persoalan anda sendiri , apalagi hanya sebatas urusan dan persoalan anak muda saja.
Anda memasuki wilayah interdependensi atau wilayah saling ber-ketergantungan , sebab berkomitment untuk berkelompok dan hidup bersama sebagai sebuah masyarakat. Anda diwajibkan untuk memahami hak-hak serta kepentingan orang banyak ,
kepentingan orang miskin seandainya negara anda miskin ,
kepentingan hukum seandainya negara anda negara hukum ,
kepentingan politik seandainya keadilan belum bisa diimplementasikan dengan baik .
Dan kepentingan kesejahteraan bersama seandainya ada hak-hak ekonomi yang dikuasai sepihak , dengan semena-mena .
Semuanya itu menjadi tanggung jawab sosial kita bersama , yang bisa saja tak ada hubungannya dengan kompetensi anda yang sebagai dokter hewan atau saya yang tukang bangunan misalnya .
Itulah esensi dan makna dari kata yang berbunyi : EMPATI .
Empati yang berkembang dalam hal ini , dimaknai sebagai “ruh” dari tanggungjawab serta kewajiban kita sebagai manusia dan sebagai warga-negara.
Nyatanya , kepada sesama sendiri saja kita hampir-hampir tak peduli , lalu mengapa menjadi heran , kalau banyak hutan digunduli .
Iya..yaa, ngapain saya heran! tapi biar…saya akan heran terus..
June 17, 2007 at 1:17 am
Budi Rahardjo
Setuju dengan apa yang dikatakan mas Yockie. Pertanyaan saya, bagaimana mengajarkan empati itu, mas? Ada pengalaman yang bisa dibagi?
Andai saya kaya raya, akan saya beli hutan-hutan itu dan akan saya biarkan … menjadi hutan. Andai …
June 17, 2007 at 2:37 am
jsop
Wah..empati bukan supaya untuk bisa beli hutan kan mas?
Sejauh pengalaman saya , empati itu hubungannya dengan ‘eq’ ,
emotional intelligence .
Dulu waktu saya remaja , kesibukan saya termasuk golongan luar biasa
maksudnya hampir tak ada waktu tersisa untuk bisa tidur dengan cukup .
Dari sepanjang pagi hingga menyongsong paginya lagi , urusannya adalah kesibukan di studio atau bermain musik kesana kemari .
Saya akui (bukan GR ya
bahwa banyak kalangan masyarakat maupun relasi disekeliling saya yang terkagum-kagum dengan sifat agresif dalam bekerja padahal saya juga sangat reaktif sekali.
Tetapi pada saat itu sikap “reaktioner” saya pahami sebagai sebuah kemampuan “plus” saya dalam menyikapi berbagai persoalan.
Cepat dan tidak bertele-tele . (ngga kaya orang lain…mikirnya lamaaaa)
Namun tanpa saya sadari , sebenarnya saya banyak mengundang sikap ‘tidak simpatik’ bagi mereka yang menjadi kawan seprofesi saya . Mengapa? karena saya dianggap tidak toleran pada sekeliling saya .
Saya dianggap terlalu banyak memerintah (?) atau mendominasi keputusan , hah..? saya heran . Saya beranggapan bahwa kalau saya dengan cepat bisa memutuskan persoalan seharusnya mereka kan berterima kasih pada saya? ( koq malah sebaliknya..? )
Contoh kasus seperti itu , ternyata adalah sebuah cermin ketidak mampuan saya mengelola emosi saya (EQ) .
Saya kurang peka membaca bahasa tubuh atau bahasa perasaan orang lain .
Misalnya kalau anda tersinggung oleh saya karena suatu hal , maka pasti perubahan ekspresi wajah atau alis mata anda , atau sikap anda seharusnya kan bisa saya tangkap?
Misalnya alis yang tiba-tiba berkenyit , atau pandangan mata yang bisa dibaca dan sebagainya .
Nah..dalam kasus saya diatas tadi , itu yang kebobolan …. hehe
Saya tidak mampu mengelola EQ saya , dan jadinya saya keminter sendiri.
Padahal kalau diadu teori dan implementasi saat itu , saya juga berani bertaruh , pasti saya yang paling pinter dari teman-teman saya saat itu .
Tap kan akhirnya ………, lagi-lagi kan itu menurut saya sendiri…….
Nah, dari pengalaman seperti itu , saya mendapat sebuah pelajaran , sehingga akhirnya saya memperoleh mata pelajaran baru lagi , yang namanya “empati”
Tanpa disuruh dan tanpa diperintah , saya bisa mengerti bahwa pembenaran saya , apapun dalilnya bukan sesuatu yang absolute baik .
“Baik” dan “benar” itu dua hal yang juga berbeda .
Baik adalah sebuah keputusan yang kita pilih berdasarkan kepentingan serta kehendak mayoritas orang banyak .
Sedangkan benar adalah sebuah keputusan yang bisa dipertanggung-jawabkan secara teoritis dan ilmiah .
seperti perbedaan antara Bapak dan Anak saja mas ,
Kalau anak kan cenderung seharusnya selalu “do the things right”
Kalau bapak mungkin seharusnya “do the right things”
atau kalau tidak bisa lagi “do” , ya paling tidak “think the right things”
hehe ( saya udah mo tuwek )
Mudah-mudahan bermanfaat buat kita semua dan yang pasti bermanfaat untuk mengingatkan diri saya sendiri .