Suatu siang saya menunggu jenazahnya di sebuah pemakaman. Sengaja saya tidak melayat kerumah duka karena terbayang betapa padat serta penuh sesaknya suasana disana. Yang terpenting kan esensi doa kita mengantar jenazah ketempat peristirahatan terakhir dan duka cita kita pada keluarga yang ditinggalkan.
Pukul 12.45 insan pers dari berbagai station TV terlihat mempersiapkan peralatan yang mereka butuhkan. Sahabat-sahabat musisi mulai satu demi satu berdatangan.
Kami saling bersilahturahmi, disamping tema utamanya adalah membicarakan kesehatan almarhum di hari-hari terakhirnya hingga ajal menjemputnya disebuah subuh pagi.
Saya dan banyak teman-teman almarhum tak dapat menyaksikan prosesi pemakaman dari dekat. Karena lingkaran sekeliling liang lahat dipenuhi sesak oleh wartawan/pers dengan kamera-kameranya.
Istri, dengan ditemani keponakan saya, berusaha memaksakan diri untuk menyelinap diantara kerumunan. Dia ingin sekali bisa berada atau paling tidak agak dekat dengan Yanti, istri almarhum.
Beginilah tuturnya pada saya sesaat setelah jenazah ditutup tanah.
“Sinting sekali….! Ada seorang kerabat almarhum ibu-ibu tua (cukup berumur) yang sedang duduk dikursi dia berteriak kesakitan karena kakinya terjepit (terdorong) oleh kerumunan orang-orang infotainment yang meringsek memaksa mendekati liang lahat.
Seketika itu juga keponakan saya berinisyatif menarik tangan kerabat almarhum tersebut agar tidak terjadi kejadian yang lebih parah. Istri sayapun berseru agar jangan mendorong-dorong, karena didepan sudah sangat sempit: hormati dan kasihanilah anggauta keluarga yang sedang berduka…, imbuhnya.
Terbayangkan..kah oleh kita semua? jawaban yang ‘asal’ dari mulut mereka? “ya… kasihanilah kita juga dong… bu, kalau engga kan ngga bisa makan… palingan juga ketiban kamera…“, cerocosnya masa bodoh seolah tak ada sesuatu yang salah.
Sementara saya berdiri agak jauh punya pemandangan tersendiri.
Rupanya ada copet HP yang beraksi dan tertangkap, mungkin juga korbannya juga satu dari infotainment tersebut. Lalu seketika, mungkin juga atas nama solidaritas sesama infotainment mereka memukuli, menginjak, menendang bahkan mencambuk dengan payung (suasana gerimis saat itu).
Mereka tidak peduli bahwa hanya berjarak beberapa meter dari lokasi, prosesi pemakaman baru saja selesai.
Sesampai dirumah saya terpekur merenung,
Ya..Gusti Allah , misteri apa sebenarnya yang sedang diuji_cobakan pada kami.
Selamat jalan Chris, tenanglah disana.
~
Awali dengan topik “[...]” lalu comment .

24 comments
March 30, 2007 at 3:07 pm
budi
Sedih mas … nampaknya “kepatutan” sudah menjadi barang yang langka di Indonesia ini.
Selamat jalan untuk Chrisye. Semoga dipermudah segalanya.
March 31, 2007 at 2:53 am
ndoro kakung
saya juga jurnalis, tapi saya ikut prihatin dan sedih membaca kisah anda tentang kelakuan kolega saya. mohon maaf sebesar-besarnya mas yockie.
March 31, 2007 at 4:45 am
jsop
matur sembah nuwun ndorokakung (he2..ketemu jabo rame’niy)
Kemaren Frans Sartono(kompas) juga telpon, saya juga ceritakan padanya.
Rupanya saat ini ada pemahaman baru juga dilingkaran profesional pers.
Ada yang namanya Jurnalis dan ada yang namanya pekerja (sekedar karyawan)industri infotainment.
Saya orang awam (dalam disiplin itu) Pertanyaan saya apakah PWI itu masih ada dan masih berfungsi?
March 31, 2007 at 7:36 am
ndoro kakung
mas yockie, saya menulis tentang blog sampean di sini. silakan diklik saja. tentang pwi, tentu saja lembaga itu masih ada dan mengurus para wartawan. para jurnalis seperti saya, ehm, lebih suka bergabung di AJI, aliansi jurnalis independen. ah anda rupanya sudah lama tak keluar goa ya? kidding, hehehe …
March 31, 2007 at 12:42 pm
Junkerz side B
yaa…begitulah infotainment..seringkali bersuka di atas duka orang..:(
March 31, 2007 at 4:44 pm
Syafiq Baktir
Mas Yockie, berhubung tulisan anda menarik untuk dibaca, pada kesempatan ini saya permisi dan mohon ijin, blog Anda saya link ke blog saya di iwanfalsmania.blogspot.com
Terima kasih
March 31, 2007 at 6:06 pm
cyntha
prihatin, sedih, menyayangkan dan kesaaaal
ketika hati nurani terlalu lama berpesiar dan tak kunjung kembali
slm kenal
April 1, 2007 at 3:59 am
jsop
silahkan Syafiq Baktir, itu satu kehormatan buat saya .
April 1, 2007 at 10:36 am
jsop
salam kenal juga cyntha:)
April 1, 2007 at 5:48 pm
Paman Tyo
Duhhhh….
Kerepotan seorang jurnalis adalah datang pada waktu yang tak tepat bagi narasumber, dan menanyakan hal yang tak diharapkan olehnya.
Dalam situasi macam itu, menjaga perilaku adalah hal yang sebisa-bisanya dijaga. Target, deadline, aktualitas, angle yang bagus, adalah keharusan. Tapi kepantasan juga patut ditimbang, kan?
April 2, 2007 at 2:19 am
Anonymous
Mas Jockie,
Apakah kjadian itu bukan m’cerminkan s’makin kerasnya kehidupan ?
Apakah ada korelasi positif dg memudarnya ‘kepatutan’ & ‘kesantunan’dr negeri ini?
April 2, 2007 at 3:14 am
jsop
(paman Tyo: tuh ‘J’lagi )
mas (anonymous)
persoalan ‘nilai’ memang persoalan utama kita. Di_forum yang lain , saya pernah menggalang sebuah komunitas untuk mencoba mengangkat tema tersebut agar menjadi isu bersama.
(subyektivitas saya
inilah salah satu contohnya.
April 2, 2007 at 6:02 pm
joesatch
dunia semakin rusak, mas
oleh orang2 yang cuma “sekedarnya”
oh, iya juga, kapan berniat keluar gua? kdg2 saya kangen jaman dulu
April 3, 2007 at 4:50 am
Ahmad Sahidah
Mas,
Sebuah ungkapan yang menyentuh bahwa kematian tak membuat kita menjadi arif.
Ya, kita saling mengingatkan bahwa mereka yang terpelajar pun kadang beringas.
Salam hangat dan kenal.
April 3, 2007 at 3:31 pm
roisz
Mas, izin ditautkan blog-nya di bilik saya,…
Terima kasih sebelumnya
April 4, 2007 at 12:45 am
Anonymous
Mas Yockie
Sebagai seorang pengagum anda yang selama ini segala informasi tentang anda itu berasal dari pemberitaan media massa, melalui blog anda ini saya dapat “mengenal” anda secara “langsung” tanpa distorsi sensor kaca mata orang lain. Membaca tulisan anda berjudul “Potret Peradaban…” ini memberi kepada saya dua hal yang amat berharga (1) kesempatan untuk melihat anda sebagai pribadi, dan saya dapati anda itu seorang humanis yang sensitif dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi; (2) dapat “mengintip” hubungan batin antara anda dengan alm. mas Chrisye pasca kerjasama kalian berdua. Sejak Chrisye bekerja sama dengan musisi lain saya bertanya-tanya bagaimana kiranya hubungan mereka berdua secara pribadi; apakah ada kemungkinan mereka akan bekerjasama lagi. Melalui tulisan anda ini saya tangkap indikasi bahwa masih ada hubungan batin diantara kalian berdua… Apakah kesimpulan saya ini terlalu jauh dan mengada-ada?
Kalau saya menulis sebagai anonymous, ini lebih dikarenakan saya tidak punya website
April 4, 2007 at 7:25 am
jsop
Terimakasih kalau ternyata saya masih dianggap humanis mas.
Walau pemahaman itu dijaman sekarang sudah agak_agak absurd…,menurut saya lho..(
Soal kedua mengenai hubungan bathin kami berdua, yah..berteman seperti biasa , memang ada prinsip_prinsip dasar kami berdua yang berbeda.
Dan itu sangat manusiawi dan lazim ,jadi bukan seperti ungkapan Rinto Harahap : benci tapi rindu.
salam kenal u/ anda yang ngga ada namanya.:)
April 5, 2007 at 3:56 am
Anonymous
Hubungan pertemanan spt itu mestinya ditiru oleh siapa saja ….
Sy jadi ingat antara Bung Karno & Bung Hata, hubungan pribadi mereka baik2 saja walau jelas2 beda prinsip sampe2 Bung Hata mundur jadi RI 2.
Atau Bang Ali & Pak Harto, ini setelah sy baca biografinya Bang Ali …..
Ayo … jangan djota’an,
dosa lho ….!!
salam,
indrayana
April 5, 2007 at 4:18 am
jsop
ya..mas indrayana,ciri khas masyarakat romantik (peradaban monarki) , kalau seneng…cintaaaaaaa setengah mati sampe ngga ada cacatnya.
kalo udah ngga seneng….bencciiiiiiii setengah mati sampai ngga ada bagus2nya,
April 5, 2007 at 6:21 am
Anonymous
Eh…Mas, aku gumun lho karo pidato terakhir Pak Harto nang DPR Jan 1998 (RAPBN 98/99).
Nang ujung pidatone ngendikan “…Badai Pasti Berlalu”
Kalimat cekak iku koq luar biasa kondange ….
Mesti sing ng-draft iku ng-fans karo E&C&Y ha….ha….ha….
salam,
indrayana
April 5, 2007 at 7:14 am
jsop
he:) denger2 sih semasa almh.ibu tien masih ada,beliau berdua sering duet nyanyiin ‘khayalku’
April 30, 2007 at 4:06 am
alfie
di E&C&Y, Mas Yockie “Moraz” bener gaya mainannya!
Salam
Alfie
May 7, 2007 at 7:22 am
alfie
Charles Hutangalung apa Benny Panbers?
May 7, 2007 at 5:31 pm
Dimas
Mas numpang tanya, kalau melihat pengalaman-pengalaman seperti itu, apakah akhirnya terinsparasi menjadi sebuah lirik.
Tapi terus terang dari awal aku cuma menunggu Mas Yockie menulis kenangan tentang Chrisye, ya paling tidak sewaktu bekerjasama dengan almarhum. Kalau tidak salah–ya kalau tidak salah baca–Mas Yockie yang ngotot agar lagu “Lilin-Lilin Kecil” karya James dinyanyikan oleh Chrisye